Tampilkan postingan dengan label Sebuah Perjalanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sebuah Perjalanan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 Oktober 2012

Syukur

Biso-o Rumongso

Mungkin tiap hari, tiap saat ketika kita berangkat bekerja, ketika sedang menikmati liburan, atau sekedar jalan-jalan, sering kita lihat  orang susah, orang-orang yang dari segi dunia kurang beruntung, kaum marginal, orang pinggiran atau yang dipinggirkan. Mereka seolah-olah sudah merupakan bagian dari hidup ini, sebagai obyek pelengkap sekaligus penderita.

Tetapi pernahkah kita memperhatikan, bahwa mereka itu juga sama seperti kita. Mereka punya keluarga, punya anak, punya istri, punya orang tua, tempat dimana ia menggantungkan seluruh asanya pada mereka. Punya tanggunan spp, uang seragam. Mereka juga punya harga diri, ingin dihormati. Ingin diperlakukan layaknya seperti kita.

Sering diri kita menganggap mereka sebagai penumpang kelas dua,  rendah kepada mereka, seperti halnya perbedaan pelayanan kita,  antara barang gudang dengan sekilo emas.

Dan pernahkah kita berpikir tentang rezeki yang mereka bawa pulang atau bahkan membandingkan dengan income kita, pernahkah terlintas dipikiran kita, bahwa mereka ibarat seekor burung yang sedang keluar mencari makan, terkadang dapat dan terkadang tidak. Beda dengan kita kan? 


Sehingga banyak kita jumpai - kalau kita jeli- ibu-ibu tua yang sepanjang malam tidur disamping dagangannya, ditrotoar,  tukang becak yang siang malam selalu on di becaknya.

Mungkin dari situ, bila kita mau membuka mata hati kita, kita akan bisa menjadi orang yang "biso rumongso" bukan "rumongso biso",  yang akan menumbuhkan rasa bersyukur, yang akan bermuara ke sifat qona'ah,  zuhud pada dunia dan terhindar dari sifat hedonisme.



Selengkapnya »»  

Minggu, 07 Oktober 2012

Negriku


Indonesia-ku
oleh : Cak Nun

Seandainya… kita sempat diberi peluang oleh Allah dikasih biaya untuk keliling dunia menyusur benua-benua, lautan dan semua dataran maupun gunung di seluruh permukaan bumi.

Atau paling tidak, kalau pada suatu hari kita bertemu dengan saudara-saudara kita sesama manusia yang berasal dari daerah-daerah yang bermacam-macam. Tanyakan kepadanya: Apakah di negerinya ada tanah sesubur tanah negeri kita? Apakah ada bumi yang bagaikan ibu hamil yang subur sebagaimana bumi nusantara kita?
Tanyakan kepada mereka: apakah ada matahari yang se-sumringah matahari republik Indonesia? Tanyakan kepada mereka: apakah ada rerumputan yang riang gembira sebagaimana rerumputan di padang-padang kita? Tanyakan kepada mereka tentang kembang-kembang, bunga-bunga, pepohonan, angin, dan apa saja, apakah ada yang seindah Indonesia?

Apakah ada yang sesubur Indonesia? Apakah ada yang.. sedahsyat Indonesia didalam memantulkan rahmat dan baroqah Allah SWT? Betapa cintanya Allah kepada kita. Betapa sayangnya Allah kepada bangsa kita. Betapa beruntungnya kita dilahirkan di bumi pertiwi.
Jadi kenapa sampai krisis seperti ini? Kenapa sampai kacau begini negeri kita? Mengapa kita berebut makanan, berebut kekuasaan, berebut apa saja seolah-olah kita adalah bangsa yang sangat miskin padahal kita bangsa yang sangat kaya raya?
Atau mungkin kita menjadi sangat malas.. karena sudah tersedia apapun saja di negeri ini? Dan tiba-tiba, kita menjumpai diri kita bertengkar satu sama lain.
Bahkan berbunuhan satu sama lain.
Memusnahkan satu sama lain. Me-nidak-kan satu sama lain.
Membenci satu sama lain. Kenapa?
Apa yang salah dengan sistem budaya kita? Apa yang salah dengan sistem akal fikiran kita? Sistem politik kita, demokrasi kita, dan lain sebagainya, apa yang salah?

Apakah kita bersedia untuk… melihat bahwa memang ada kesalahan-kesalahan yang sedang kita lakukan?
Saya yakin, sebagaimana suburnya tanah dan tanaman-tanaman di negeri ini, Allah juga memberi rahmat berupa kesuburan dan kecerdasan di akal kita, dan kesuburan cinta di dalam hati kita. Akan tetapi masalahnya.. kita bukan nggak punya ilmu untuk menyelesaikan masalah. Kita bukan tidak punya metode untuk mengurangi bentrokan-bentrokan. Kita bukan tidak punya solusi untuk mengakhiri kerusuhan-kerusuhan dan pembunuhan-pembunuhan.
Masalahnya adalah: kita mau atau tidak? Kita bersedia atau tidak? Untuk mengubah diri kita agar supaya tidak terus-menerus di atas udara negeri ini terLantunkan secara batiniah tembang-tembang kematian, kematian, ….



Selengkapnya »»  

Pinggiran

Yang terpinggirkan

Di sebuah angkutan umum, ketika saya dalam perjalanan ke tempat kerja, nampak seorang ibu yang sangat tergesa-gesa. Disampingnya nampak sebuah bakul besar dengan aneka dagangan, rupanya ia mau berjualan di pasar. Sesekali angkutan itu berhenti berharap kursi yang masih kosong agar terisi. tapi setiap berhenti  si ibu itu selalu komplain sama Pak Sopir. Mendapat komplain si Ibu, Pak Sopir itu juga berargumen ," Lha nanti yang nomboki setoran siapa, Bu?"

Memang dilema juga, dua kepentingan yang bertolak belakang.
Sambil menggerutu si Ibu itu bilang, " Orang kayak kita itu repot Mas," katanya pada saya. 

"Kalau kita terlambat sampai di pasar, orang-orang yang mau beli sudah pada bubar, terus dagangan kita yang beli siapa?" tambahnya lagi.
"Kalau sampeyan kan enak, walaupun terlambat tetapi gajian tetap dapat," katanya.

Aku jadi nggak enak juga sama si Ibu, malu. Dan lebih malu lagi kalau sudah nggak laba tapi dapat bonus....

Mungkin si Ibu itu lebih ngedumel lagi kalau saja ia tahu.
Selengkapnya »»  

Selasa, 02 Oktober 2012

BBM

Benar-benar Mogok

Tiga bulan lebih lamanya hujan sudah tidak turun. Dibanding tahun 2011 kemarin yang hari-hari selalu diwarnai dengan hujan. Aku teringat betapa rekoso-nya medan yang aku lewati tiga hari sekali itu. Dan persis sejak peristiwa itu sampai sekarang hujan belum sekalipun turun.
 
Rabu sore itu jam setengah empat seperti biasa sehabis kerja aku pulang. Setelah sholat Ashar dan berkemas aku langsung berangkat, ya kira-kira jam empat kurang sedikit.

Sebelumnya sempat ragu juga mengingat pas jam tiga tadi sedikit hujan gerimis, kemlambi, uyoh wewe ataupun apalah istilahnya untuk hujan yang hanya sebentar itu. Dengan tekad yang bulat akhirnya aku putuskan untuk tetap berangkat juga dengan motor favoritku. Ya, aku tak tega sama si kecilku yang berdua sama kakaknya, sementara istri dan mertua pergi ke Jogja menengok besan yang sakit sehabis operasi empedu.

Aku sempat di sms sama istri kalau ternyata sakit besan tersebut salah satu diantaranya sering minum jamu TL (inisial saja, takut di Prita Mulyasari-kan), repotnya aku sendiri juga sering mengkonsumsi jamu tersebut.  Memang sih, khasiatnya terasa banget. Oleh sebab itu saking cepat terasa khasiatnya tersebut aku sempat curiga sama jamu itu, minum jarang dan kalau pas capek banget itulah solusi yang aku ambil.

Jalan  menyusuri hutan yang sepi itupun aku lalui, sekali-sekali berpapasan dengan orang yang baru pulang mencari nafkah di hutan. Kadang bertemu pencari kayu bakar, pencari bonggol jati, penggembala sapi, kadang juga bertemu pencari kayu untuk material jamu. Itupun tak sering, dan jarak antara satu orang dengan orang lainnya cukup jauh juga.

aspal mengelupas
Aspal jalanan yang terkelupas sana-sini ditambah batu-batu kecil berserakan membuat kehati-hatianku semakin bertambah. Rupanya hujan gerimis tadi telah membuat jalanan menjadi licin. Lubang jalanan yang ditambal ala kadarnya menggunakan tanah liat itu semakin membuat jalanan bertambah licin dan licin. Berkali-kali sepatu bututku harus menggaruk jalanan untuk mengimbangi laju motor yang hilang kendali.
 
Jalanan terasa sepi sekali. Disaat gerimis seperti ini dengan kondisi jalanan yang rusak hanya orang yang benar-benar punya kepentinganlah yang berada di jalanan.
 
Setengah jam sudah aku lalui. Dengan jaket kumal karena tersiram air hujan kecil-kecil itu membuat badan terasa dingin. Sengaja aku tidak memakai mantel yang sudah aku bawa, toh gerimisnya cuma kecil, pikirku. 
Jalanan depan warung pertigaan Jliru itu sangat rusak. Yah, satu-satunya warung sekaligus desa yang tidak bertetangga. Lubang jalan yang menganga lebar itu oleh penduduk setempat diurug dengan batu-batu cadas, setelah itu atasnya diisi dengan tanah liat. Mungkin maksudnya biar tidak nggronjal-nggronjal kalau dilewati. Tapi disinilah awal masalah  itu muncul.


Air hujan yang hanya membasahi permukaan tanah liat itu membuat roda motorku tidak mau bergerak. Alhasil setiap lima puluh meteran aku harus nyoleti tanah liat yang menyumbat roda, padahal jarak yang harus aku tempuh  masih 20 km-an lagi. 
Sroogg ... roda motorku benar-benar nggak mau berputar lagi. Aku coba menggeber gas tidak juga mau jalan, padahal rpm sudah diatas tiga ribuan.
 
Aku panik juga karena posisi motorku pas ditengah jalan yang memang sempit itu sementara dikejauhan tampak truk tua yang mau lewat juga. 
 
"Ayo Mas, aku bantu bersihkan rodanya, nanti kalau tanah liatnya sudah berkurang kan bisa didorong," kata Bapak yang membantu saya. Sementara ia sendiri meninggalkan anak dan istrinya beserta seonggok rumput dimotornya.
Benar juga, roda mau berputar sedikit. 
 
"Matur nuwun Pak," kataku. Aku benar-benar berterima kasih. Ditengah jalan hutan  yang sepi ini masih ada orang yang dengan tulis peduli. Rupanya Bapak tadi adalah penduduk desa Getas, desa kedua setelah Jliru tadi.  Ya, hanya ada dua desa. Desa terujung timur dari Propinsi Jawa Tengah.
Aku sangat senang ketika dilubang jalan depan itu ada sedikit air hujan. Walaupun sangat keruh, air itu aku pakai juga untuk mencuci roda yang  sudah sulit untuk berputar itu.
 
Jam ditanganku sudah menunjukkan pukul lima sore. Walaupun seharusnya belum gelap , tetapi karena cuaca mendung ditambah dengan lebatnya  daun hutan jati membuat cahaya sore itu sudah remang-remang.

hutan jatiSrooggghhh ... entah untuk yang keberapa kalinya roda motorku tidak mau berputar. Aku mencari ranting kecil untuk membuang tanah liat yang menyumpal. Kali ini benar-benar sulit. Mungkin kultur jenis tanahnya berbeda. Benar juga, diantara tanah liat itu tercampur batu-batu kecil, sehingga sulit untuk dikeluarkan. Berkali-kali rantingku patah. Aku sudah tidak memperdulikan lagi celana dan jaketku yang lusuh terkena tanah.  Aku coba membuka slebor roda depan, barangkali dengan tanpa slebor tanah yang menyumpal itu bisa lepas. 
 
Dengan kunci dua belas yang ada di  jok , aku mencoba membukanya. Ternyata sulit juga. Mata skrup itu sudah tertutup tanah liat yang benar-benar liat. 
Sayup-sayup diujung jalan hutan itu terdengar suara truk lewat, benar juga. Aku sempat bingung juga sebab posisi motorku melintang di tengah jalan. Aku geser-geser sedikit berbagi jalan dengan truk pengangkut tebu itu. 
Berangsur-angsur sore itu menjadi petang. Seperti berangsur-angsurnya pula sedikit demi sedikit tanah yang menyumbat rodaku mulai berkurang. Setelah kurasa roda sedikit bisa berputar kucoba memacu motorku sedikit lebih kencang, dengan harapan tanah yang menempel akan lepas. Benar juga, hampir dua ratusan meter rodaku masih berputar tanpa harus turun lagi.

makadam
Sroooogggghhhh... roda motorku benar-benar tidak mau berputar. Aku sudah putus asa. Walaupun sayup-sayup adzan maghrib baru terdengar tapi suasana di jalan hutan itu benar-benar gelap, dingin, karena air-air kecil yang turun belum berhenti juga.
Sesekali angin malam yang kencang itu berhembus, menggoyang-goyangkan pohon jati sehingga menambah suasana mencekam. 
 
Allahuma tawakaltu alallah, pasrah, sambil berdoa semoga hujan yang gerimis itu menjadi deras, hanya itu yang bisa aku lakukan. 
Bagaimana tidak, masih 8 km-an lagi kondisi jalan yang sama harus aku tempuh. Tak ada orang maupun perkampungan. Kampung terdekat dan satu-satunya masih dua kilo meteran lagi. Roda motorku benar-benar macet, cet, cet. Mogok, inilah mogok yang sebenar-benarnya, tidak bisa maju tidak bisa mundur.
jalan tanah liat
Dikeremangan kegelapan itu tanganku menggaruk-garuk tanah liat, barangkali tanah yang sedikit terurai bisa membuat rodanya berputar. Mesin aku nyalakan, belum bisa juga. Kucoba lagi menggaruk-garuk tanah dan batu-batu kecil yang menempel di sela-sela roda itu. Lemas banget, aku baru ingat kalau seharian tadi baru sekali saja makan. Ya Allah, hari yang sangat melelahkan.
Kucoba lagi, kali ini berhasil. Sedikit demi sedikit roda mau berputar, lega rasanya apalagi hujan yang turun semakin lama semakin deras. Ditengah kegelapan hutan dan siraman air hujan yang deras itu semangatku tumbuh, semakin deras semakin lancar roda motorku berputar.  Rasa lapar dan dingin itu hilang di kedinginan malam.
Alhamdulillah ya Allah, Engkau mengabulkan do'aku.
 
Selengkapnya »»  

Minggu, 23 September 2012

Antara Ngawi Randublatung

Sebuah perjalanan

Sebuah perjalanan, tidak lebih. Tidak mengandung makna bias. Hanya perjalanan saja. Ya, antara Ngawi dan Randublatung hanyalah sebuah rute perjalanan. Hanya 33 km saja. Jarak yang tidak terlalu jauh untuk sebuah perjalanan. Untuk jalur umum normalnya bisa ditempuh hanya 30 menit-an itupun dengan kecepatan yang sedang-sedang saja, tetapi untuk jalur yang "satu ini" harus membutuhkan kesabaran yang ekstra.
Rute ini bisa ditempuh dengan dua jalur yang berbeda, lewat Getas dan lewat Nginggil (Mendenrejo). Antara dua jalur yang berbeda tapi mempunyai jarak yang sama, seperti segitiga sama sisi. Masing-masing jalur juga memiliki karakteristik yang berbeda.

Bila melewati jalur Getas  maka sepanjang perjalanan Anda akan menapaki jalan-jalan dengan batu padas yang merangas, batu kali yang tajam, jalan yang bergelombang, tapi disatu sisi Anda akan menikmati pemandangan yang bagus yaitu nuansa hutan jati yang luas. 

Sebetulnya jalan tersebut tidak bisa dikatakan rusak, karena kalau pengertian "rusak" berarti jalan tersebut dulunya "baik" tetapi kalau jalan ini dari dulu-dulunya ya seperti itu ...!

Sedang bila Anda melewati jalur Nginggil, maka sepanjang perjalanan Anda akan dibawa menapaki tanjakan-tanjakan yang cukup tinggi disepanjang tebing-tebing pegunungan dan dibawahnya terbentang aliran sungai Bengawan Solo, sebuah pemandangan yang begitu indah.

nah, indah bukan. Sesuai syairnya " ... musim kemarau, tak ada air-mu ... dimusim hujan air meluap sampai jauh..."  ketika menjelang kemarau dasar sungai nampak kelihatan sedang ketika musim hujan maka sepanjang aliran sungai dari hulu sampai hilir, dari Solo sampai Bojonegoro selalu menjadi langganan banjir.










Selengkapnya »»